Kamis, 04 September 2014

PENEMPATAN TKI KE JEPANG TAHUN 2015 NAIK 100 PERSEN

Kepala BNP2TKI: Penempatan TKI ke Jepang Tahun 2015 Naik 100 Persen

Cetak
Selasa, 26 Agustus 2014 12:55


Gatot Abdullah Mansyur, Kepala BNP2TKI ketika membuka Pembukaan Interview, Aptitude Test
Gatot Abdullah Mansyur, Kepala BNP2TKI ketika membuka Pembukaan Interview, Aptitude Test
Jakarta, BNP2TKI, Selasa (26/8) - BNP2TKI akan mengirimkan kembali 348 orang dengan perincian 82 orang perawat rumah sakit (Nurse atau Kangoshi) dan 266 perawat orangtua jompo (careworker atau Kaigofukushishi ) ke Jepang untuk penempatan tahun 2015. Jumlah ini meningkat 100 persen dari kuota penempatan tahun 2014 sebanyak 156 TKI kesehatan."Kita terus meningkatkan kualitas perawat ke Jepang seiring dengan adanya kepercayaan masyarakat Jepang untuk meminta lebih banyak perawat dari Indonesia," ujar Kepala BNP2TKI, Gatot Abdullah Mansyur ketika membuka Pembukaan Interview, Aptitude Test -- tes kemampuan analisis verbal, numerical dan kepribadian – dan Japanese Quiz pada program Penempatan TKI Nurse dan Careworker ke Jepang di Hotel Alila, Jakarta, Selasa (26 atau 8 atau 2014).
Turut mendampingi Kepala BNP2TKI, Deputi Penempatan BNP2TKI, Agusdin Subiantoro, Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah BNP2TKI, Haposan Saragih, Manager Director JICWELS (Japan International Corporation Welfare Services), dan Staf Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, Kemenkes, Heni.
Menurut Gatot, dalam kunjungan Asosiasi Panti Lansia dan Anggota Parlemen dari LDP Prefecture Ibaraki ke BNP2TKI pada April 2014 lalu dikabarkan bahwa kebutuhan perawat dan pendamping lansia di Jepang hingga tahun 2025 berjumlah 1 juta orang. Peningkatan kebutuhan ini dikarenakan jumlah orangtua yang kian meningkat (aging society) sebagai konsekwensi dari peningkatan standar kesehatan yang cukup baik di Jepang.
Mantan Dubes RI untuk Arab Saudi ini menjelaskan, program penempatan TKI Kesehatan ini juga diberikan pemerintah Jepang kepada para perawat dari Filipina dan Vietnam.
Sejak 2008-2014 Penempatan TKI nurse dan careworker berjumlah 1.235 Perinciannya, tahun 2008 sebanyak 208 orang terdiri dari 104 nurse dan 104 careworker, tahun 2009 sebanyak 362 orang terdiri dari 173 nurse dan 189 careworker.
Tahun 2010 sebanyak 116 orang terdiri dari 39 nurse dan 77 careworker, tahun 2011 sebanyak 105 orang terdiri dari 47 nurse dan 58 careworker, tahun 2012 sebanyak 101 orang terdiri dari 29 nurse dan 72 careworker dan tahun 2013 sebanyak 156 orang terdiri dari 48 nurse dan 108 careworker dan tahun 2014 sebanyak 187 orang terdiri dari 41 nurse dan 146 careworker.
Ada 6 tahapan dalam seleksi penerimaan TKI ke Jepang dimulai dengan tes keperawatan, tes psikologi, tes interview, medical tes, matching dan pelatihan bahasa Jepang di Indonesia selama 6 bulan. Untuk seleksi interview kali ini diikuti 468 orang kandidat yang pelaksanaanya diadakan di Jakarta dan di Medan, Sumatera Utara.
Kepada para kandidat, Gatot mengingatkan agar mereka belajar sungguh-sungguh, disiplin dan menunjukkan keyakinan untuk bisa bekerja di Jepang.
Dia menegaskan orang Jepang itu dikenal sebagai pekerja keras, disiplin dan mereka menyukai para perawat dan pendamping lansia dari Indonesia karena sebelumnya dikenal disiplin, pekerja keras dan ramah. Citra ini harus dipertahankan dan tingkatkan yaitu melalui kualitas dan profesionalitas.
"Selain anda, juga ada pesaing pekerja dari Filipina dan Vietnam," katanya. Gatot mengatakan, penempatan TKI perawat ke Jepang berdasarkan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara BNP2TKI atas nama Pemerintah Indonesia dengan JICWELS yakni lembaga bentukan pemerintah Jepang yang membawahi program G to G penempatan TKI perawat - di Jakarta pada Mei 2008.
Program itu untuk menindaklanjuti kesepakatan sebelumnya, antara Indonesia-Jepang Economic Partnership (IJEPA) yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe di Tokyo, Jepang pada 20 Agustus 2007.
Menurutnya, peluang bekerja TKI perawat di Jepang cukup besar. Hingga 2015, mereka butuh 1 juta pekerja kesehatan untuk merawat orang Jepang dan orangtua lanjut usia (lansia) di Jepang yang jumlah kini cukup tinggi.
Proses Seleksi
Total peserta seleksi Interview TKI Perawat dan Careworker tahun 2014 untuk penempatan tahun 2015 berjumlah 468 orang. Perinciannya, untuk di Jakarta pada Selasa- Rabu (26-27 atau 8) untuk TKI Perawat (Nurse) diikuti oleh 99 orang di mana dari jumlah itu ada 3 orang yang tidak hadir. Adapun untuk TKI Careworker diikuti 170 peserta yang akan diadakan pada 1-3 September di Hotel Sari Pasifik Jakarta. Selain di Jakarta, seleksi juga diadakan di Hotel Santika Medan, Sumut, pada Sabtu-Minggu, 30-31 Agustus 2014 yang diikuti 71 peserta terdiri dari 5 orang TKI Perawat dan 66 orang TKI Pendamping Lansia.
Gatot mengatakan, proses seleksi penempatan TKI kesehatan ini dilakukan secara terbuka dan transparan. Bahkan para calon TKI dijaga kerahasiaanya karena CTKI akan mendapatkan ID dan Password yang hanya dapat dibuka oleh mereka.
"Jangan percaya kepada perorangan atau lembaga yang menyatakan dapat membantu anda untuk bisa matching dan bekerja di Jepang. Hal ini saya pastikan tidak mungkin karena proses seleksi dilakukan secara terbuka dan transparan serta menjaga kerahasiaan masing-masing peserta," terang Gatot.
Ditambahkannya, kelulusan itu murni hasil kemampuan anda sendiri setelah dinyatakan lulus oleh JICWELS. Peran BNP2TKI hanya sebagai fasilitator program dan tidak memiliki otoritas untuk membantu kelulusan anda.
Setelah lulus seleksi interview, para kandidat harus melakukan medical check up dengan biaya sebesar Rp1.000.000 dan ditanggung peserta. Biaya tersebut akan diganti oleh pemerintah Jepang bilamana CTKI berangkat ke Jepang. Proses matching adalah proses saling memilih antara calon TKI dan calon pengguna jasa rumah sakti atau panti lansia. Pada proses ini CTKI akan memilih 10 institusi rumahsakit (TKI Perawat) atau institusi 10 panti lansia (TKI Careworker). Bilama matching akan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 6 bulan di Indonesia dan di Jepang, sedangkan yang tidak matching mengikuti proses matching kedua dengan memilih 20 institusi rumahsakit (TKI Perawat) atau institusi panti lansia atau sisanya. Bagi yang matching akan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 6 bulan di Indonesia dan 6 bulan di Jepang. Bagi yang tidak matching pertama dan matching kedua dinyatakan gugur.
Selama pelatihan di Jepang, mereka mendapatkan uang saku per hari sebesar USD 10 atau USD 300 per bulan. Untuk TKI nurse akan diikat kontrak kerja selama tiga tahun, dan TKI careworker selama empat tahun. (zul atau toha)
 

PEMBERITAHUAN PELAYANAN PENEMPATAN TKI KOREA

Pemberitahuan Pelayanan Penempatan TKI Korea

Cetak
Kamis, 14 Agustus 2014 15:32


Pengumuman
Nomor : Peng. 345/PEN-PPP/VIII/2014Dalam rangka peningkatan pelayanan penempatan TKI Program G to G Korea, diberitahukan kepada Calon TKI Program G to G penempatan ke Korea agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Berkenaan dengan proses pengiriman lamaran/Sending Berkas CTKI Korea, baik PBT maupun CBT agar Mengisi Formulir dan mengirimkannya sendiri ke PO.BOX 4451 JKTM 12700.
  2. Tidak benar bahwa ada pihak-pihak yang bisa membantu mempercepat proses penempatan TKI Korea program G to G mulai dari proses Sending, Penerbitan SLC, Preliminary Training, dan Pemberangkatan ke Korea.
  3. Agar tidak mudah terbujuk rayu oleh oknum/pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang menjanjikan pemberangkatan ke Korea. Hanya Calon TKI yang bisa menolong dirinya sendiri.
  4. LPK hanya merupakan lembaga yang memberikan pelatihan Bahasa Korea, oleh karena itu LPK tidak dapat membantu dan menjanjikan kelulusan, mempercepat proses penempatan TKI Korea program G to G mulai dari proses Sending, Penerbitan SLC, Preliminary Training, dan Pemberangkatan CTKI ke Korea.
  5. Untuk mengetahui perkembangan informasi, CTKI harus memantau secara rutin website www.bnp2tki.go.id.
Demikian pengumuman ini untuk menjadi perhatian.
Jakarta, 14 Agustus 2014
Plh Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah
ttd
Drs Yeni Agus Winoto MM
NIP: 19610501 198903 1 002